Tindak Pidana Kohabitasi dalam KUHP Baru: Antara Privasi, Moralitas, dan Penegakan Hukum

Authors

  • Agung Dwi Prasetia Universitas Dr. Soetomo, Surabaya, Indonesia
  • Wahyu Prawesthi Universitas Dr. Soetomo, Surabaya, Indonesia
  • Sri Sukmana Damayanti Universitas Dr. Soetomo, Surabaya, Indonesia
  • Fitri Ayuningtyas Universitas Dr. Soetomo, Surabaya, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.37893/jbh.v15i2.1487

Keywords:

Hak Privasi, Kohabitasi, Moralitas Publik, Overkriminalisasi, Penegakan Hukum

Abstract

Pengesahan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) menandai transisi fundamental dalam tata hukum pidana Indonesia, beralih dari paradigma individualistik-liberal warisan kolonial menuju paradigma komunal-nasionalistik yang berorientasi pada nilai-nilai keseimbangan. Salah satu manifestasi paling kontroversial dari pergeseran ini adalah kriminalisasi kohabitasi melalui Pasal 412, yang mempidana pasangan tidak menikah yang hidup bersama layaknya suami istri. Artikel ini mengkaji ketegangan antara upaya negara dalam menegakkan moralitas publik dan kewajiban melindungi hak privasi warga negara. Terdapat kesenjangan yang signifikan antara das Sollen (tatanan ideal negara yang menuntut kesucian institusi perkawinan) dan das Sein (realitas empiris masyarakat plural di mana kohabitasi, perkawinan informal, dan hambatan administratif semakin marak). Menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan konseptual, komparatif, serta analisis manfaat-biaya (cost-benefit analysis), kajian ini menemukan bahwa meskipun pembentuk undang-undang mencoba menyeimbangkan intervensi negara melalui mekanisme delik aduan absolut guna mencegah persekusi, rumusan Pasal 412 tetap membawa risiko overkriminalisasi yang masif. Kebijakan paternalisme moral ini tidak hanya berbenturan dengan instrumen hak asasi manusia internasional, khususnya Pasal 17 International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR), tetapi juga berpotensi menciptakan diskriminasi struktural terhadap kelompok rentan, serta membebani sistem peradilan pidana secara tidak proporsional.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Australian Human Rights Commission. (2012). Human Rights Explained: Australia and Human Rights Treaties. https://humanrights.gov.au/our-work/education/human-rights-explained-australia-and-human-rights-treaties

Australian Human Rights Commission. (2013). Freedom from interference with privacy, family, home and correspondence or reputation. https://humanrights.gov.au/resource-hub/by-resource-type/publications/guidelines/articles/rights-and-freedoms/freedom-interference-privacy-family-home-and-correspondence-or

Belinda, N., Sanjaya, F., & Eryke, H. (2026). The Formulation of Morality Crimes in Law No. 1 of 2023: A Criminal Law Study of the Risk of Overcriminalization and Legal Certainty. PALAR (Pakuan Law Review), 12(2), 26–40. https://doi.org/10.33751/palar.v12i2.59

Bimantoro, C. D., Jayanuarto, R., Arisandi, F., & Padmi, H. (2026). Criminalization of Cohabitation in the New Criminal Code (A Philosophical Review in Legal Pluralism and Privacy Rights). International Journal of Social Sciences and Humanities, 4(2), 800–809. https://doi.org/10.55681/ijssh.v4i2.2824

Dediansyah, Ramli, Arifin, Z., Sukardiawan, I. W., Hajairin, Syamsuddin, & Musmuliadin. (2025). Analisis Yuridis Perubahan Sanksi Pidana Penyalahguna Narkotika dalam Perspektif KUHP Baru dan UU Narkotika: Strategi Mengurai Overkapasitas. Lex Journal: Kajian Hukum Dan Keadilan, 9(3), 601–617. https://doi.org/10.25139/lex.v9i4.11162

Fauzia, A., & Hamdani, F. (2021). Aktualisasi nilai-nilai pancasila dan konstitusi melalui pelokalan kebijakan Hak Asasi Manusia (HAM) di daerah. Jurnal Indonesia Berdaya, 2(2), 157–166. https://doi.org/10.47679/ib.2021136

Fauzia, A., Hamdani, F., & Octavia, D. G. R. (2021). The Revitalization of the Indonesian Legal System in the Order of Realizing the Ideal State Law. Progressive Law Review, 3(1), 12–25. https://doi.org/10.36448/plr.v3i01.46

Gadkari, A. (2023). Tearing down sexual freedom in Indonesia: ban on any form of sex outside marriage. https://blogs.lse.ac.uk/humanrights/2023/05/11/tearing-down-sexual-freedom-in-indonesia-ban-on-any-form-of-sex-outside-marriage/

Hamdani, F., Putra, E. A. M., Akbar, D. A., Pangastuti, D. P., & Anam, F. K. (2023). Fiksi Hukum: Idealita, Realita, dan Problematikanya di Masyarakat. Primagraha Law Review, 1(2), 71–83. https://doi.org/10.59605/plrev.v1i2.364

ICJ. (2023, April 20). Indonesia: New Penal Code Violates Women’s Human Rights. International Commission of Jurists. https://www.icj.org/resource/indonesia-new-penal-code-violates-womens-human-rights/

Iranti, V. K. G., & Irawan, A. (2025). Kohabitasi dalam KUHP 2023: Analisis Yuridis atas Intervensi Hukum Pidana terhadap Kehidupan Pribadi. Journal of Islamic and Law Studies, 9(1), 1–17. https://doi.org/10.18592/jils.v9i1.16187

Islamika, R., Syarifuddin, L., & Andini, O. G. (2026). Criminalization of Cohabitation Under Indonesia’s 2023 Criminal Code: A Cost-Benefit Analysis Perspective. Jurnal Ilmiah “Advokasi,” 14(1), 58–74. https://doi.org/10.36987/jiad.v14i1.6895

Mahmud, P. M. (2021). Penelitian Hukum: Edisi Revisi (13th ed.). Kencana.

Mill, J. S. (2005). On Liberty (Perihal Kebebasan). Yayasan Obor Indonesia.

National Academic OER & Digital Library of Ethiopia. (1990). Harmless Wrongdoing. http://ndl.ethernet.edu.et/bitstream/123456789/16106/1/224.pdf

Palyama, F. E. (2026). The Threat of Punishment Under Article 412 of Law Number 1 of 2023 Concerning the New Criminal Code Against Cohabitants. Legal Brief, 15(1), 92–96. https://doi.org/10.35335/legal.v15i1.1636

Panjaitan, R. (2020). Consenting adults living together is not a crime. https://www.icj.org/consenting-adults-living-together-is-not-a-crime/

Putri, N. S. (2025). Moral Offenses Under Indonesian Criminal Code 2023 in Perspective of Religious Minority. Jurnal HAM, 16(1), 61–76. https://doi.org/10.30641/ham.2025.16.61-76

Tomayahu, D., Yahya, N. P. I., & Moonti, R. M. (2025). Tinjauan Kriminologis terhadap Faktor Penyebab Overkriminalisasi di Indonesia dalam Perspektif Reformasi Hukum. Terang: Jurnal Kajian Ilmu Sosial, Politik Dan Hukum, 2(2), 155–167. https://doi.org/10.62383/terang.v2i2.1027

Yantu, S. W., Puluhulawa, F. U., & Imran, S. Y. (2026). Cohabitation Offences Balance Morality and Privacy in Criminal Code. Academia Open, 11(1). https://doi.org/10.21070/acopen.11.2026.13684

Yazid, M. H., Yusmansyah, F. M., & Paidi, Z. Bin. (2026). Moral Criminalization and the Illusion of Humanism in Indonesia’s National Criminal Code. Malaqbi Law Review, 1(1), 79–96. https://jurnal.stainmajene.ac.id/index.php/malaju/article/view/2133

Yodiansyah, A., Farida, A., & Pramono, A. (2026). Dilema Mens Rea pada Algoritma Self-Learning: Siapa yang Bertanggung Jawab Pidana Ketika AI Melakukan Diskriminasi Sistemik? Lex Journal: Kajian Hukum & Keadilan, 10(2), 358–374. https://doi.org/10.25139/lex.v10i2.11870

Downloads

Published

2026-08-22

How to Cite

Prasetia, A. D., Prawesthi, W., Damayanti, S. S., & Ayuningtyas, F. (2026). Tindak Pidana Kohabitasi dalam KUHP Baru: Antara Privasi, Moralitas, dan Penegakan Hukum. Binamulia Hukum, 15(2), 673–691. https://doi.org/10.37893/jbh.v15i2.1487